Pengalaman Bayi Tabung IVF Morula Jakarta

Hai,

Di blog ini kami ingin menceritakan pengalaman saya ikut bayi tabung di rumah sakit Bunda Jakarta. Saya berumur 28 tahun dan suami usia 27 tahun saat awal mengikuti program ini di bulan Juli 2016. Kami sudah menikah selama 3 tahun dan belum dikaruniai anak.

2 tahun lalu kami sempat memeriksakan diri ke dokter di rumah sakit family dan hasilnya suami jumlah spermanya sedikit. Sementara saya tidak ada masalah. Dokter mengdiagnosa suami terkena varikokel, atau penyumbatan pembuluh darah di testis yang mengakibatkan testi menjadi panas sehingga sperma yang melewati testis akan mati. Saat itu dokter menyarankan untuk bayi tabung atau alternatif lainnya adalah memeriksa ke dokter urologi. Dokter pun membuat rujukan ke dokter urologi.

Suami pun setuju untuk memeriksakan diri ke dokter urologi di rumah sakit Pluit. Dokter pun langsung menyarankan untuk operasi varikokel, biayanya sekitar 30 juta saat itu. Suami pun setuju untuk dioperasi. Setelah operasi, suami belum memeriksa jumlah sperma lagi dan berdoa saja agar bisa dikaruniai anak.

1 Tahun kemudian, di tahun 2015 kami masih belum dikaruniai anak. Kemudian atas saran seseorang, kami mencoba ke RSCM untuk pemeriksaan. Hasilnya mengejutkan karena jumlah sperma yang awalnya 6 jutaan setelah diperiksa kembali jumlahnya turun menjadi hanya ratusan ribu. Dokter tidak menemukan masalah, hanya saja informasinya varikokel suami masih ada. Tapi dokter tidak menyarankan untuk operasi, saat itu dokter hanya memberikan obat dan menyarankan untuk olahraga dan makan makanan yang sehat.

Begitu obat habis, kami mengecek kembali dan hasilnya tidak banyak berubah. Suami begitu shock karena setelah melalui operasi yang begitu mahal dan menyakitkan bukannya membaik malah justru memburuk.

1 tahun kemudian, di bulan Juni 2016 saya dan suami pun memutuskan untuk ke Morula Bunda Menteng. Kami memutuskan untuk ke dokter Indra Anwar karena beliau adalah dokter senior di Morula dan menjadi dokter pertama di situ yang sukses dengan program bayi tabung, beliau juga cukup banyak diliput di media. Dan yang penting beliau tidak terlalu ramai.

Dokter Indra merujuk kami ke dokter urologi. Kami pun ke dokter urologi dan dokter memberikan 2 pilihan: 1) operasi varikokel 2) operasi PESA/TESA

Dokter menyarankan untuk operasi varikokel. Tetapi karena pengalaman sebelumnya dan kami membaca di internet banyak yang mengalami pengalaman serupa, maka kami memutuskan untuk ambil operasi PESA/TESA, biayanya hampir 30 juta.

Operasi PESA/TESA berlangsung cepat. Dokter memberitahu bahwa hasilnya cukup baik, sehingga hanya diambil dari gudangnya saja, tidak mengambil dari pabriknya. Begitu suami siuman, kami boleh langsung pulang. Sperma difreezing di rumah sakit Bunda.

Setelah itu, kami kembali ke dokter Indra dan dokter meminta kembali setelah hari pertama mens berakhir. Ketika mens berakhir di bulan Juli, kami kembali ke dokter Indra dan dokter langsung membuat jadwal program bayi tabung. Oh ya, kami memutuskan untuk langsung bayi tabung dan bukan inseminasi karena 2 hal:

  1. Bayi tabung peluang berhasilnya lebih besar di mana jika usia istri di bawah 30 tahun peluangnya mencapai 45%-50%
  2. Jumlah sperma suami yang sangat terbatas
Ada beberapa obat suntik maupun obat yang dimasukkan lewat vagina yang diberikan. Suami yang membantu menyuntik di perut dan memasukkan obat ke vagina. Untuk obat suntik, jika dikerjakan sendiri perlu agak berhati-hati dan pastikan tidak ada udara di alat suntik. Saat itu suster tidak memberikan informasi ini sehingga suami sempat melakukan kesalahan. Beruntung tidak terjadi apa-apa karena kalau dibaca di internet, udara di alat suntik bisa berbahaya karena dapat mengakibatkan penyumbatan darah dan berujung kematian.

Kami beberapa kali kembali ke dokter sesuai jadwal yang diberikan di mana dokter akan menyesuaikan obat yang diberikan.

36 jam menjelang OPU, saya disuntik ovidrel untuk pemecah telur sebagai persiapan menjelang OPU. Saat hari H, saya menjalani OPU dan mendapatkan 14 telur. Beberapa hari kemudian, kami dipanggil ke rumah sakit dan diberitahukan bahwa dari 11 telur, ada 7 yang dibuahi tapi hanya 5 yang berkembang dan hanya 2 yang kualitasnya good. Tidak ada yang excellent. Besoknya kami diberi kabar bahwa ada 1 lagi yang kualitasnya good.

Kami pun memutuskan untuk menyimpan 1 embrio dan memasukkan 2 embrio. Tibalah waktunya embrio transfer. Setelah ET, kami memutuskan untuk menginap di hotel dekat Morula selain agar saya dapat langsung istirahat, juga agar jika ada sesuatu dapat segera ke Morula. Beruntung tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sekitar 2 minggu kemudian waktunya laporan. Setelah dicek, BHCG saya sangat tinggi mencapai 1000. Kami sangat senang sekali saat itu. Tetapi karena terlalu tinggi kami agak was-was juga. Dari informasi di internet, BHCG yang tinggi kemungkinan adalah bayi kembar. Dan benar, ketika kami kembali ke dokter Indra, kami mendapatkan informasi bahwa saya mengandung bayi kembar dari 2 sel telur yang artinya kedua embrio yang ditransfer berhasil.

Saya pun memutuskan untuk cuti dari kantor. Selama cuti, saya merasakan sakit di perut sebelah kiri. Ketika saya sedang berada di rumah mertua, mertua mengajak saya ke dokter Djoko di ruko Alexandrite Gading Serpong. Dokter Djoko menemukan kista sebesar 7 cm. Saat itu dokter mengatakan bahwa ini hal biasa, terlebih karena saya mengikuti program bayi tabung sehingga tidak perlu dioperasi. Jika ingin operasi pun sebaiknya nanti saja ketika usia kehamilan di atas 16 minggu. Beliau dokter yang baik dan cukup ahli, biayanya pun terbilang murah.

Beberapa hari kemudian sakit bertambah parah. Kami memutuskan untuk ke dokter Ong Chandra di rumah sakit Bethsaida. Tapi sayangnya beliau hanya praktek 1 minggu sekali dan harus booking dari 1 bulan sebelumnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi dokter apa pun yang sedang praktek saat itu di rs Bethsaida. Kami terkejut karena dokter menyarankan untuk langsung operasi.

Karena kami merasa lebih yakin dengan dokter Djoko, maka kami menolak untuk operasi dan kami diminta menandatangani surat pernyataan.

Kami pun berusaha untuk mencari dokter Ong Chandra di kliniknya, klinik sehati. Saat itu antrian sudah penuh dan direkomendasikan untuk booking untuk 2 minggu lagi. Tapi karena urgent, akhirnya kami menghubungi dokter Ong dan beliau bersedia untuk menerima kami tetapi hanya jika ada pasien yang batal hari itu.

Akhirnya kami bisa bertemu dengan dokter Ong dan beliau memeriksa saya. Beliau mengatakan bahwa itu adalah kista fungsional yang terbentuk akibat perubahan hormon. Kista ini bermanfaat bagi janin karena mengandung hormon yang dibutuhkan oleh janin sehingga tidak perlu dioperasi. Sebaiknya operasi dilakukan pada saat melahirkan. Untuk mengurangi sakit, beliau menyarankan untuk tidur ke sebelah kiri, karena posisi kista di kiri.

Ajaib, setelah merubah posisi tidur ke kiri, sakit pun mereda dan dalam beberapa hari sudah hilang. Kami ingin ke dokter Ong sebenarnya, tetapi karena tidak sanggup dengan antrian yang begitu panjang, terlebih lagi dokter Ong sering keluar kota, maka kami memutuskan untuk mencari dokter lain. Atas rekomendasi seorang kawan, kami ke rs grha kedoya di mana ada dokter Hardi seorang dokter kandungan yang juga spesialis kista seperti dokter Ong.

Dr Hardi dokter yang baik, meskipun terkadang kata-katanya agak kurang enak, tetapi beliau dokter yang baik dan berpengalaman. Beliau tidak mau menyarankan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak dibutuhkan dan juga tidak mau menyarankan obat yang tidak dibutuhkan pasien.

Berikutnya kehamilan berjalan cukup lancar. Dan dengan 2 debay di dalam membuat perut saya sangat besar sehingga agar sulit berjalan. Tetapi so far semua baik hingga akhirnya beberapa hari sebelum artikel ini dibuat, saya melahirkan 2 bayi yang sudah kami tunggu-tunggu.

Kami bersyukur dengan apa yang kami dapatkan. Jika Anda sekarang sedang mengikuti program bayi tabung, tetaplah bersemangat dan berpikir positif. Saya doakan program Anda berhasil dengan lancar. Perbanyaklah doa sesuai dengan kepercayaan Anda sendiri.

Komentar

Posting Komentar